PERSATUAN atau PERSETERUAN ?
"Persatuan" adalah suatu kalimat yang indah sekali didengar oleh telinga setiap ora ng. Siapa yang tid ak sena ng dengan persatuan ?
Setiap orang pasti mengidamkan persatuan. Hidup berdampingan dengan damai dan aman tanpa ada konflik apapun memang adalah idaman bagi setiap orang. De m i kia n juga umat Islam, satu sama lain selalu mengedepankan dan mengutamakan persatuan. Karena memang itulah ajaran aga ma Islam yang hanif. Sesama mukmin adalah bersaudara. Saling menghormati, menghargai dan menolong serta saling berbagi rasa dalam suka dan duka, saling me ncintai. Sebagaimana disabdakan oleh Baginda Rosululloh shallallahu alaihi wasallam: "Tidaklah sempurna iman di antara kalian sehingga mencintai saudaranya sebagaimana dia mencintai dirinya sendiri" (HR. Ahmad, Bukhori Muslim, Tirmidzi Nasa'i, Ibnu Majah). Dalam riwayat lain Beliau juga bersabda: "Perumpamaan orang-orang mukmin dalam saling mencintai dan kasih sayang sesamanya adalah laksana satu tubuh, jika satu anggota tubuh sakit, maka anggota lainnya pun ikut merasa sakit tak bisa tidur dan terasa panas." (HR. Ahmad dan Muslim).
Namun ajaran persatuan tentunya dapat direalisasikan dengan baik manakala didasarkan atas dasar persamaan iman dan akidah yang benar yaitu yang selalu didasarkan pada Al-Qur'an dan Hadits. Bukan persatuan yang dilandaskan pada factor kemanusiaan semata-mata sebagai makhluk sosial. Islam telah jelas mengatur hal ini yang telah ditunjukkan oleh Alloh subhanahu wata'ala dalam Al-Qur'an dan sabda-sabda Rosululloh dalam haditsnya. Terhadap musuh-musuh Islam yang nyata seperti Yahudi dan Nasrani, maka sudah jelas tidak ada kompromi sedikitpun dalam bersatu dengan mereka. Mereka adalah musuh-musuh Allah dan Rosul yang selalu mengajak dan mempengaruhi orang-orang Islam untuk menjadi pengikut agama mereka dengan berbagai cara. Kejahatan-kejahatan kemanusiaan yang sangat keji berupa pembunuhan dan penyiksaan terhadap orang-orang muslim di berbagai belahan dunia adalah refleksi kebencian mereka yang sangat besar akan Islam dan umat Islam. Ambisi utama mereka adalah menghancurkan umat Islam. Realitanya masih banyak orang-orang Islam yang masih menaruh simpati kepada mereka, berpelukan erat dan mesra dengan mereka, melakukan doa bersama, natalan bersama, bercanda riang dan lain sebagainya. Banyak dari kalangan tokoh Islam yang semestinya menjadi panutan umat malah berbuat demikian dengan rasa bangga dan penuh yakin akan perbuatan nista mereka itu. Tidak ada sebutan yang pantas yang disandang oleh mereka selain julukan sebagai Pengkhianat Agama.
Demikian juga Syiah dengan ajaran sesatnya yang menjadi tamu tak diundang di bumi Ahlussunnah Indonesia. Setelah revolusi Iran yang dipimpin oleh Khumeini yang telah menggulingkan Syah Iran Riza Pahlevi melalui kudetanya pada tahun 1979 yang telah mengantarkan dia melakukan revolusi Islam dan persatuan, akhirnya banyak yang terpukau dengan sandiwara jahatnya. Tak lama terkuak kedok jahatnya. Ajaran syiah yang telah diusung dalam revolusi Islam Iran hanyalah fatamorgana. Ajarannya sama sekali tidak mencerminkan ajaran Islam. Islam hanya sebagai kedok propaganda yang manis. Tidak cukup topeng Islam bahkan dengan memakai nama ajaran Ahlil bait. Dengan trik membela ajaran Ahlil bait nampaknya cukup jitu bagi sebagaian orang-orang dungu. Tanpa merasa malumereka menipu umat Islam dengan mengaku sebagai pengikut setia ajaran Ahlil bait padahal para Ahlil bait telah berlepas diri dari mereka. Dengan dukungan dana yang besar dan fasilitas yang serba mewah mereka hidup. Para mullah telah hidup bergelimangan harta dengan hasil dana dari Khumus (1/5 dari harta kekayaan) yang diambil paksa oleh mereka terhadap rakyat Iran sebagai sikap tunduk dan ketaatan kepada mereka. Pantaskah mereka dianggap muslim dan pengikut setia ajaran Ahlil bait ?. Sementara mereka telah melakukan ajaran-ajaran yang biadab melawan Allah dan Rosul yang diantaranya adalah:
1. Penolakan Al-Qur'an dengan mengatakan bahwa Al-Qur'an sudah tidak asli. Banyak terjadi perubahan (Muharrof).
2. Pelaknatan dan pengkafiran terhadap sahabat-sahabat Nabi shallallahu alaihi wasallam terutama Abu bakar As-Siddiq dan Umar bin Khottob radhiyallahu 'anhuma.
3. Pencacimakian terhadap isteri-isteri Nabi shallallahu alaihi wasallam terutama Aisyah dan Hafshoh radhiyallahu 'anhuma.
4. Menghalalkan Mut'ah (kawin kontrak/zina terselubung) dan menganjurkannya.
5. Tidak mewajibkan sholat Jum'at.
6. Meringkas sholat lima waktu menjadi sholat tiga waktu.
7. Mengkultuskan Imam-imam Ahlil bait Nabi dengan mengatakan mereka adalah para imam yang ma'shum (terjaga dari perbuatan salah, lalai dan lupa) sehingga mensejajarkan dengan sifat-sifat suci tuhan Alloh.
8. Mengkafirkan kaum muslimin Ahlussunnah dan menghalalkan darahnya.
9. Melakukan Taqiyah (berdusta) dan menganjurkannya untuk menutupi dan menyelamatkan ajarannya.
Lalu mengapa kita masih menganggap mereka sebagai saudara sesame muslim yang harus dihormati ? Mengapa kita begitu mudak terbujuk dengan rayuan manis mereka, sehingga berbaik hati dan berperasangka baik serta menampakkan kasih sayang penuh suka ?. Dan mengapa kita masih rajin mendatangi undangan-undangan mereka, makan minum dan tersenyum dan tertawa-tawa bersama mereka ? Sementara mereka terus berjuang merong-rong dan menggerogoti akidah umat Islam secara halus tanpa kita sadari. Mana ghirah Islam kita ?. Akankah kita terus diam dan membisu menghadapi bahaya besar ini ! Demi Alloh yang menciptakan langit dan bumi ! Mereka ini adalah musuh-musuh Alloh dan Rasul-Nya. Mereka adalah perusak-perusak agama dengan topeng Islam. Janganlah sekali-kali Anda menganggap sepele masalah ini ! Orang-orang syiah terus akan merusak aqidah umat Islam dan memurtadkannya dengan berbagai cara sebagaimana yahudi dan nasrani tidak akan rela sampai umat Islam mengikuti agama mereka. Dan janganlah ragu lagi bahwa yahudi nasrani dan syiah adalah musuh terbesar umat islam sepanjang masa yang harus selalu diwaspadai oleh umat Islam. Sikap cinta kasih dan santun kepada mereka adalah bukan sikap Islam bahkan pengkhianatan terhadap Islam. Bukankah Alloh subhanahu wata'ala telah berfirman:
"Engkau tidak akan mendapatkan suatu kaum yang beriman kepada Alloh dan hari akhir saling berkasih sayang terhadap orang-orang yang menentang Alloh dan Rosul-Nya, walaupun mereka itu adalah bapak-bapak mereka atau anak-anak atau saudara-saudara mereka ataupun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang Alloh telah menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan pertolongan yang datang dari pada-Nya". (QS: Al-Mujadalah ayat 22).
Demi untuk keselamatan iman dan akidah kita, serta keluarga kita dan umat Islam semuanya dari bahaya syiah, maka tiada jalan yang terbaik yang sesuai dengan tuntunan Al-Qur'an dan Sunah melainkan dengan menempuh sikap tegas yaitu:
- Memboikot secara total untuk tidak mengadakan hubungan atau muamalah kepada mereka baik secara sosial maupun secara ekonomi dan lain-lain.
- Menolak semua propaganda yang selalu mereka suarakan untuk mengajak persatuan antar umat Islam.
- Menanamkan pemahaman yang kuat tentang akidah Islam Ahlussunnah wal Jama'ah semenjak dini kepada semua lapisan masyarakat Islam.
- Mewaspadai segala gerakan dan tipu muslihat mereka yang terorganisir di selulruh bidang.
- Mempersempit dan menekan ruang gerak dakwah mereka dengan mengedepankan sikap konfrontasi dan antipati terhadap syiah.
- Menjalin komunikasi yang aktif dengan para pejabat terkait agar tercipta kebersamaan dalam memahami dan mewaspadai bahaya laten syiah.
- Menggalang kerja sama semua komponen umat Islam Ahlussunnah untuk bersatu mendesak pemerintah pusat untuk segera mengeluarkan keputusan pelarangan syiah dan membubarkannya.
Walhasil jangan pernah ada kompromi sedikitpun di antara kita dengan orang-orang kafir dan ahlil bid'ah. Bersikap tegas dan keras adalah jalan yang terbaik dan mendatangkan keridhoan Allah subhanahu wata'ala.(Ms_Aswaja)
Rasulullah shallallahu alaihi wasallam bersabda:
"Sesungguhnya Allah telah memilihku dan memilihkan untukku para sahabat dan para mertua atau menantuku. Dan akan datang suatu kaum yang mencela dan mencaci mereka, maka janganlah kalian duduk bersama mereka dan janganlah makan dan minum bersama mereka serta janganlah menikah dengan mereka" (HR. Baihaqi)


















