Array

Statistik Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini21
mod_vvisit_counterKemarin23
mod_vvisit_counterMinggu ini130
mod_vvisit_counterMinggu terakhir191
mod_vvisit_counterBulan Ini551
mod_vvisit_counterBulan Terakhir640
mod_vvisit_counterSemuanya3701

We have: 1 guests online
Your IP: 38.107.179.227
 , 
Today: Feb 22, 2012
Sample Title
Sample Title
Sample Title
Sample Title
Sample Title
 

pengajian 2

Dua Syarat Menerima Pemberian

Attention: open in a new window. PDFPrintE-mail

Last Updated on Sunday, 13 November 2011 00:50 Written by Majid Saturday, 12 November 2011 01:50

Disarikan dari Pengajian Hikam Ibnu Athaillah

Diasuh Oleh Abuya Habib Ahmad bin Husein Assegaf


لاَتَمُدَّنَّ يَدَكَ إِلَى اْلأَخْذِ مِنَ الْخَلاَئِقِ إِلاَّ أَنْ تَرَى أَنَّ اْلمُعْطِيَ فِيْهِمْ مَوْلاَكَ فَإِنْ كُنْتَ كَذَلِكَ فَخُذْ مَا وَافَقَكَ اْلعِلْمُ

Janganlah engkau mengulurkan tangan untuk menerima pemberian makhluk kecuali engkau merasa bahwa yang memberi adalah Tuhanmu. Kalau engkau sudah demikian maka terimalah dari mereka yang sesuai dengan ilmu pengetahuanmu.

 

 

Rizki yang sampai kepada manusia itu ada dua macam. Pertama, rizki yang diperoleh dengan sebab dan bekerja, seperti berdagang, bertani, atau membuat kerajinan. Ini keadaan ahli asbab (orang yang bekerja). Kedua, rizki yang sampai melalui tangan manusia tanpa bekerja dan berusaha. Ini adalah golongan ahli tajrid, orang yang melulu beribadah kepada Allah tanpa memikirkan mencari nafkah.

 

Hari Raya Para Murid

Attention: open in a new window. PDFPrintE-mail

Last Updated on Sunday, 13 November 2011 00:47 Written by Majid Saturday, 12 November 2011 01:46

Disarikan dari Pengajian Hikam Ibnu Athaillah

Diasuh Oleh Abuya Habib Ahmad bin Husein Assegaf

وُرُوْدُ اْلفَاقَاتِ أَعْيَادُ الْمُرِيْدِيْنَ

Tibanya saat-saat kemiskinan sebagai hari raya bagi para murid (yang melatih diri bertaqarrub kepada Allah)

 

Kegembiraan manusia berbeda-beda. Kebanyakan orang muslim merasa senang kalau mendapatkan keinginan, syahwat dan tujuannya. Tapi ada pula yang berbeda dengan kebanyaan manusia. Malah, ia berbahagia kalau tidak memperoleh keinginan, tidak menuruti syahwat dan gagal tujuannya. Ini keadaan orang-orang khusus dari para murid yang sedang bersuluk dan melatih dirinya untuk bertaqarrub kepada Allah.

 

Syukur Bikin Nikmat Awet

Attention: open in a new window. PDFPrintE-mail

Last Updated on Sunday, 13 November 2011 00:48 Written by Majid Saturday, 12 November 2011 01:31

Disarikan dari Pengajian Hikam Ibnu Athaillah

Diasuh Oleh Abuya Habib Ahmad bin Husein Assegaf

مَنْ لَمْ يَشْكُرِ النِّعَمَ فَقَدْ تَعَرَّضَ لِزَوَالِهَا وَمَنْ شَكَرَهَا فََقَدْ قَيَّدَهَا بِعِقَالِهَا

Siapa yang tidak men-syukuri nikmat-nikmat Allah maka berarti ia telah berusaha menghilangkannya. Barangsiapa men-syukurinya maka ia telah mengikat nikmat-nikmat itu (dengan ikatan yang kuat).

 

Mensyukuri nikmat Allah menyebabkan nikmat itu langgeng dan dapat bertambah. Sebaliknya, mengkufuri nikmat menyebabkan nikmat itu hilang dan berpisah dari pemiliknya. Ini sebagaimana firman Allah:

لَئِنْ شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِنْ كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ

Sunnguh bila kalian bersyukur maka pasti Aku memberi tambahan kenikmatankepada kalian. Dan Apabila kalian kufur maka sesungguhnya siksaku sangat pedih.[1]

Allah juga berfirman :

إِنَّ اللَّهَ لاَ يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّى يُغَيِّرُوا مَا بِأَنْفُسِهِمْ

Sesungguhnya Allah tidak merubah apa yang ada pada kaum sehingga mereka merubah apa yang ada pada diri mereka.[2]

 

Arti ayat tersebut ialah Allah tidak akan mencabut kenikmatan yang diberikan kepada seseorang sehingga orang itu merubah perbuatannya dengan melakukan kemaksiatan yang berarti mengkufuri nikmat tersebut. Dengan begitu berarti ia telah menantang Allah dan tidak pantas menerima kenikmatan tersebut Maka Alah mencabutnya.

   
 
 
 
 
 

Darul Ihya