Array

Statistik Pengunjung

mod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_countermod_vvisit_counter
mod_vvisit_counterHari ini8
mod_vvisit_counterKemarin20
mod_vvisit_counterMinggu ini28
mod_vvisit_counterMinggu terakhir130
mod_vvisit_counterBulan Ini423
mod_vvisit_counterBulan Terakhir627
mod_vvisit_counterSemuanya5660

We have: 1 guests online
Your IP: 38.107.179.228
 , 
Today: May 21, 2012
Sample Title
Sample Title
Sample Title
Sample Title
Sample Title
 

Dua Syarat Menerima Pemberian

Attention: open in a new window. PDFPrintE-mail

Disarikan dari Pengajian Hikam Ibnu Athaillah

Diasuh Oleh Abuya Habib Ahmad bin Husein Assegaf


لاَتَمُدَّنَّ يَدَكَ إِلَى اْلأَخْذِ مِنَ الْخَلاَئِقِ إِلاَّ أَنْ تَرَى أَنَّ اْلمُعْطِيَ فِيْهِمْ مَوْلاَكَ فَإِنْ كُنْتَ كَذَلِكَ فَخُذْ مَا وَافَقَكَ اْلعِلْمُ

Janganlah engkau mengulurkan tangan untuk menerima pemberian makhluk kecuali engkau merasa bahwa yang memberi adalah Tuhanmu. Kalau engkau sudah demikian maka terimalah dari mereka yang sesuai dengan ilmu pengetahuanmu.

 

 

Rizki yang sampai kepada manusia itu ada dua macam. Pertama, rizki yang diperoleh dengan sebab dan bekerja, seperti berdagang, bertani, atau membuat kerajinan. Ini keadaan ahli asbab (orang yang bekerja). Kedua, rizki yang sampai melalui tangan manusia tanpa bekerja dan berusaha. Ini adalah golongan ahli tajrid, orang yang melulu beribadah kepada Allah tanpa memikirkan mencari nafkah.

 

Masing-masing dari dua keadaan ini mempunyai adab dan hukum tersendiri. Hukum golongan pertama, ahli asbab, disebut dalam ilmu fiqih. Setiap orang yang bekerja harus mengetahui hukum-hukum yang berkaitan dengan pekerjaannya tersebut. Sedangkan adab kelompok kedua, ahli tajrid, disinggung oleh Ibn Athaillah dalam kata hikmah ini.

 

Ada dua syarat yang harus diperhatikan seorang ahli tajrid yang mendapat rizki melalui pemberian orang.

Syarat pertama, ketika ia menerima pemberian itu harus merasa bahwa pemberian-pemberian itu datangnya murni dari Allah. Ini tauhid yang sebenarnya. Apabila ia masih merasa bahwa itu datangnya dari manusia berarti tauhidnya tidak benar. Yang sebenarnya, yang memberi adalah Allah. Manusia hanyalah pesuruh Allah yang bertugas mengantar pemberian itu. Yahya bin Muad berkata: “Siapa yang dibukakan baginya pintu kehidupan tanpa melalui kunci takdir maka orang itu akan dibebankan kepada makhluk.[1]

 

Tidak cukup memiliki pandangan bahwa semua itu murni dari Allah hanya dengan pengetahuan dan iman saja. Namun hal itu harus dengan perasaan. Kisah nyata dibawah ini menggambarkan bagaimana perasaan seseorang ketika diberi.

Syaqiq Albalakhi pernah diundang seseorang. Ia datang bersama lima puluh muridnya. Tuan rumah menghidangkan kepada mereka makanan yang banyak. Ketika mereka sudah duduk, Syaqiq berkata kepada mereka;

“Orang yang mengundang kita ini mengatakan, ‘barangsiapa yang tidak menganggap bahwa aku yang membuat dan menyuguhkan makanan ini kepadanya, maka makananku ini haram untuk orang itu.’”

Dengan serempak mereka berdiri dan keluar. Hanya tinggal seorang pemuda yang masih kurang musyahadah-nya.

“Semoga Allah merahmatimu. Apa maksud anda dengan kejadian ini,” tanya tuan rumah itu kepada Syaqiq.

“Aku ingin menguji tauhidnya sahabat-sahabatku,” ucap Syaqiq. Artinya, semua tamu itu tidak merasa bahwa yang membuat dan yang menyuguhkan makanan itu adalah sang tuan rumah[2], kecuali seorang pemuda itu.

 

Tajrid Tidak Didapat Dengan Dicari-Cari

Disyaratkannya -dalam memandang bahwa yang memberi itu adalah Allah semata- harus dengan perasaan, karena itu yang sesuai dengan ahli tajrid.[3] Sebab, tajrid itu adalah kedudukan yang mulia tidak didapat dengan dicari dan disengaja. Orang yang mencari-cari dan sengaja ber-tajrid (tidak berusaha mencari rizki) berarti ia mengikuti hawa nafsu, ingin dapat keuntungan, santai dan enak-enakan saja. Berarti orang itu adalah seorang pemalas.

Tajrid diberikan oleh Allah kepada orang yang Ia kehendaki dari orang yang bertakwa. Pada mulanya orang itu selalu sibuk dengan beribadah dan khidmah kepada Allah. Ia berusaha untuk mengurangi ketergantungannya kepada selain Allah. Ia terus menerus menjauh dari dunia. Akhirnya, Allah memutusnya dari mengatur-ngatur urusan dunia dan Allah yang menangani segala urusannya. Allah memberinya rizki tanpa ia duga sebab ketakwaan dan tawakalnya kepada Allah.

Seorang Ahli tajrid meninggalkan bekerja harus dengan hukum waktu dan isyarat hal, bukan keinginan orang itu sendiri. Ini seperti yang terjadi pada Abu Hafs Annaisaburi.

Dulunya Abu Hafs Annaisaburi adalah seorang pandai besi. Pada suatu hari ketika budaknya sedang meniup api, Syekh Abu Hafs Annaisaburi memasukkan tangannya kedalam api yang membara dan mengambil besi yang panas dengan tangannya. Melihat kejadian ini, budaknya pingsan. Sejak saat itu Abu Hafs Annaisaburi meninggalkan kedainya. Ia tidak bekerja lagi.

Abu Hafs Annaisaburi berkata: “Dulu aku berusaha meninggalkan pekerjaan, tapi aku kembali ke pekerjaan itu lagi. Lalu pekerjaan itu meninggalkan aku. Maka aku tidak kembali lagi kepadanya.”

Syekh Abdullah Alqurosyi mengatakan: “Kalau masih ada perasaan ingin bekerja di dalam hati maka bekerja lebih baik.”

 

Asal Tidak Minta Dan Mengharap

Rasulullah memberi syarat bolehnya menerima pemberian orang lain dengan syarat orang yang diberi itu tidak mengharap-harap pemberian dari manusia.

Rasulullah bersabda:

مَنْ جَاءَهُ مِنْ أَخِيهِ مَعْرُوفٌ ، مِنْ غَيْرِ إِشْرَافٍ وَلاَ مَسْأَلَةٍ ، فَلْيَقْبَلْهُ وَلاَ يَرُدَّهُ ، فَإِنَّمَا هُوَ رِزْقٌ سَاقَهُ اللَّهُ إِلَيْهِ.

Barangsiapa datang kepadanya pemberian dari saudaranya, tanpa berharap-harap dan meminta, maka terimalah dan jangan ditolak. Sebab, itu adalah rizki yang diberikan Allah untuk orang tersebut.[4]

Rasulullah bersabda:

مَنْ وُجِّهَ إِلَيْهِ شَيْئٌ مِنْ هَذَا الرِّزْقِ فِيْ غَيْرِ مَسْأَلَةٍ وَلاَ إِشْرَافٍ، فَلْيَأْخُذْهُ فَلْيَتَّسِعْ بِهِ فِيْ رِزْقِهِ ، فَإِنْ كَانَ غَنِيًّا فَلْيَدْفَعْهُ إِلَى مَنْ هُوَ أَحْوَجُ إِلَيْهِ مِنْهُ

Barangsiapa kedatangan rizki, tanpa meminta dan mengharap, maka ambillah dan pergunakanlah. Apabila dia orang yang cukup maka berikanlah kepada orang yang lebih membutuhkan dari dirinya[5].

Umar bin Khatab berkata: “Rasulullah pernah memberiku sebuah pemberian. Aku kataka kepada Rasulullah, ‘Wahai Rasulullah! Berikan saja kepada orang yang lebih mebutuhkan dari saya.’ Maka Rasulullah bersabda:

خُذْهُ فَتَمَوَّلْهُ أَوْتَصَدَّقْ بِهِ ، فَمَا جَاءَكَ مِنْ هَذَا الْمَالِ وَأَنْتَ غَيْرُ مُشْرِفٍ وَلاَ سَائِلٍ فَخُذْهُ ، وَإِلاَّ فَلاَ تُتْبِعْهُ نَفْسَكَ

Ambillah dan gunakanlah, atau sedekahkanlah. Apasaja yang datang kepadamu dari harta ini, dan kamu tidak mengharap dan meminta, maka ambillah. Apabila tidak, maka jangan kau ikuti nafsumu (untuk meminta harta itu).[6]

Salim putra Ibnu Umar, berkata: “Oleh sebab ini, Ibnu Umar tidak pernah meminta kepada seorangpun dan tidak pernah menolak pemberian berbentuk apapun.”

Jadi, mengharap-harap dari manusia itu tercela dan merusak tauhid. Maka seorang murid tidak sepatutnya menerima pemberian dari seeorang bila ia mengharapkannya.

 

Syarat Kedua bolehnya seorang ahli tajrid menerima pemberian orang ialah ia tidak boleh mengambil pemberian itu kecuali yang sesuai dengan ilmu. Maksud sesuai dengan ilmu adalah sesuai dengan dua macam ilmu. Yaitu, ilmu dhahir dan ilmu bathin.

Sesuai dengan ilmu dhahir itu seperti, ia tidak menerima pemberian kecuali dari orang yang balig, berakal dan bertakwa. Dalam hadis disebutkan:

لاَ تَأْكُلْ اِلاَّ طَعَامَ تَقِيٍّ وَلاَ يَأْكُلْ طَعَامَكَ اِلاَّ تَقِيٌّ

Janganlah kau makan kecuali makanan orang yang bertakwa, dan janganlah makan makananmu kecuali orang yang bertakwa.

Ia juga tidak boleh mengambil pemberian dari anak kecil, orang dhalim, orang yang muamalah riba, atau orang yang tidak mengerti halal-haramnya cara bekerja yang sudah diatur dalam syariat.

 

Sedangkan tidak mengambil pemberian kecuali yang sesuai dengan ilmu bathin itu, seperti orang yang diberi itu mengetahui lewat mukasyafah bathin-nya bahwa harta yang diberikan itu tidak halal. Maka harta itu ditolaknya karena tidak cocok dengan ilmu bathin.

Ada seorang tamu menyalami Kiai Hamid, Pasuruan, sejumlah uang yang ia peroleh dari bunga bank. Tanpa diberitahu sebelumnya, Kiai Hamid yang dikenal dengan kewaliannya itu langsung menampel uang itu. Kiai Hamid menolaknya seraya berkata: “Bank bangkrut.”

Ada pula dari para sufi yang menolak pemberian karena ia tahu lewat bathin bahwa pemberian itu datang sebagai bala’ dan ujian untuk dirinya. Adapula yang menolak karena ia tahu bahwa orang yang memberi itu sebenarnya masih membutuhkan dan masih berat untuk memberikan barang tersebut.

 

Ada pula yang menolak karena kasihan kepada pemberinya, takut hartanya hliang dan ia tak dapat pahala, seperti dalam kisah berikut.

Seorang pemuda arab datang kepada Ibrahim Attaimi membawa dua ribu dirham.

“Wahai Abu Imran (julukan Ibrahim Attaimi), ambillah dirham-dirham ini. Demi Allah, ini bukan dari raja dan bukan dari ini dan itu,” ucap pemuda itu meyakinkan Ibrahim Attaimi tentang kehalalan hartanya.

“Semoga Allah memberkatimu dan membalasmu dengan kebaikan,” kata Ibrahim Attaimi menolak dengan halus pemberian itu. A’masy -yang menyaksikan kejadian ini dan kemudian menceritakannya- menanyakan kepada Ibrahim Attaimi tentang alasan penolakannya.

“Wahai Abu Imran, apa yang membuatmu menolak pemberian itu, padahal, demi Allah, istrimu tidak punya baju gamis?” tanya A’masy.

“Waha Sulaiman, kamu benar. Tapi pemuda tadi belum berpengalaman. Ia belum mengerti banyak adab-adab syariat. Aku tidak suka kalau ia kemudian duduk di kampungnya dan berkata, ‘Aku telah memberi Ibrahim dua ribu dirham.’ Dengan begitu, Allah menghapus pahalanya dan dirhamnya juga ikut habis,” ucap Ibrahim Attaimi beralasan.

Sufyan Atssauri orang yang sejalan dengan pendapat ini. Sufyan Atssauri menyaratkan kepada setiap orang yang memberinya agar orang itu tidak menyebut-nyebut pemberian itu kepada yang lain. Sebab, Sufyan Atssauri kasihan kepada orang tersebut takut pahalanya hilang.

Ini cukup beralasan. Karena disebutkan mengenai tafsir ayat:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا لَا تُبْطِلُوا صَدَقَاتِكُمْ بِالْمَنِّ وَالْأَذَى

Wahai orang-orang yang beriman janganlah kalian batalkan sadaqah kalian dengan al-mann dan al-adza.

Al-mann adalah menyebut shadaqahnya.

Al-adza adalah menampakkannya.



[1] Orang yang merasa bahwa rizki yang diterima itu dari manusia, bukan dari takdir Allah, maka urusannya akan dipasrahkan kepada makhluk. Hidupnya akan susah karena ia menggantung kepada manusia.

[2] Bahkan mereka memilki perasaan bahwa pemberinya adalah Allah semata. Perasaan yang timbul dari tauhid yang sebenarnya.

[3] Sungguh keterlaluan seorang yang mendapat rizki tanpa berusaha bila ia tidak memiliki perasaan bahwa rizki yang sampai padanya itu semata dari Allah.

[4] HR. Ahmad, Baihaqi dari sahabat Khalid Aljuhani.

[5] HR. Baihaqi.

[6] HR. Bukhari,Muslim, Nasai.

Last Updated (Sunday, 13 November 2011 00:50)
 
 
 
 
 

Darul Ihya